Artikel Penyuluhan

”TEORI DAN PRAKTEK KEGIATAN PENYULUHAN DALAM PERSPEKTIF HUMANISTIC ”

Oleh:

J.Soenarmo dan Eka Suhardi

 

ABSTRACK

 

Humanist  Extension  activities which are extension activities which place more emphasis on emotion and affective development . Humanistic theories encourage the development of self-perception and self-potentials of a farmer as a participant counseling extension activities. In the area of motivation, extension humanist emphasis on the intrinsic variables, as exemplified by the theories of Abraham Maslow and Carl Rogers.

.

Proponents argue that the humanist theory of humanistic theory is also applicable in extension activities, The Extension Specialist  wanted a change from the conventional process of extension / traditional “bound” to the process of freeing the participants extension activities more humanist. The desired changes that include: 1) schedule of activities is more open; 2) counseling process should be more active; 3) encourage and  more freedom and creativity of participants in counseling; 4) extension activities focused on cooperation; 5) participants extension that is able to evaluate themselves, and 6) greater emphasis on personal integrity, intrinsic potential participants and the curriculum.

 

Keywords : Humanist  Extension  activities,  The Extension Specialist,   participants.

 

 

 

I.    PENDAHULUAN

 

1.      Latar Belakang

 

Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang mana eksistensinya di muka bumi mengundang segudang tanya oleh manusia itu sendiri. Banyak orang cerdas yang terkemuka, bahkan sampai dengan saat ini masih tetap pada paradoks yang sama. Apakah manusia hanya di lihat terutama sebagai individu seperti yang dianjurkan oleh eksistensialisme dan banyak psikologi modern?. Ataukah sebagai masyarakat seperti yang ditekankan pada sosiolog dan Marxisme?. Ataukah harus pesimis dalam penafsiran psikilogis?. Ataukah manusia harus optimis seperti yang dianjurkan oleh para penganut humanis dan para hedonisme popular?.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas menggaris-bawahi pandangan yang berbeda tentang relevansi dan hakekat eksistensi manusia di muka bumi. Tetapi apapun tentang manusia, adalah sebaik-baik makhluk yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Dan apapun yang dikatakan tentang manusia adalah tindakan kreatif Tuhan dalam proses penciptaannya. Kemampuan rasional, kesadaran moral, pengutamaan keindahan, rasa takut akan punah dan persepsi spritual adalah wujud – keunikan Tuhan dalam kerangka penciptaan manusia. Selain itu, manusia berbeda dengan makhluk lain apapun, karena satu sifat yang luar biasa. Manusia menemukan kebahagiaan dalam memberi, dan suka cita dalam mencintai dan dicintai. Disamping manusia juga punya hati nurani yang mengganggu jika manusia dalam kehidupannya  menyimpang.

Selain sebagai mahluk sosial, sebagaimana yang ditekankan dalam perspektif humanis, manusia harus dipandang sebagai pribadi/individu yang memiliki kemampuan dalam dirinya sendiri untuk mengerti dan dimengerti, menentukan hidup, serta manusia secara pribadi/individu dengan bebas dapat mengaktualisasikan diri dalam lingkungan dan dalam kehidupan sosialnya. Selain itu, secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta-kasih dari orang lain. Kebutuhan manusia dinyatakan oleh Roggers  sebagai need for positive regard, baik bersayarat (conditional positive regard) maupun yang tidak bersyarat (unconditional positive regard).

 

2.       Permasalahan

Para penggagas teori humanis percaya bahwa sejak lahir manusia sudah dibekali berbagai kesanggupan untuk belajar, meskipun kemudian  bukan berarti keahlian untuk belajar. Oleh karena itu perkembangan kepribadian seseorang adalah objek yang sangat penting yang harus mendapat perhatian dan dikaji oleh para penganut humanistis.

Untuk memenuhi potensi dasarnya sebagai manusia, psikologi humanis menekankan pentingnya pemahaman tentang bagaimana mereka memahami atau mempersepsikan diri sendiri, orang lain serta lingkungan sekitarnya sebagai dasar perkembangan afektifnya, disamping itu bagaimana konsep individu atau pemikirannya terhadap sesuatu kejadian/peristiwa dapat diintegrasikan sebagai perkembangan kognitifnya. Dan untuk menjadikan manusia yang manusiawi, sebagian para penggagas teori humanis ini bahkan tidak perduli apakah  penyuluhan humanis dapat meningkatkan penampilan dan prestasi  atau tidak, tetapi kajian humanis tetaplah menjadi sesuatu yang sangat penting.

 

II. KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

1   Problem Penyuluhan  dalam Perspektif Humanistik

Carl Rogers adalah seorang pendidik humanistik, menyatakan bahwa banyak aspek Pendidikan dan  penyuluhan yang belum enerapkan prinsip-prinsip humanis. Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah-masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk mengaktualisasikan dirinya.

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa lalu. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia dewasa seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Dalam memotivasi proses penyuluhan yang lebih humanis, Rogers menawarkan beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan oleh seorang penyuluh, yaitu:

  1. Manusia mempunyai potensi alami untuk belajar dan mengembangkan dirinya,
  2. Materi penyuluhan harus sesuai dengan tujuan penyuluhan,
  3. Belajar mandiri tanpa tekanan,
  4. Teori harus diikuti dengan praktek,
  5. Peserta penyuluhan harus berpartisipasi aktif,
  6. Kebebasan dan kreatifitas, serta
  7. Belajar sambil berubah .

Pertanyaannya adalah apakah semua penyuluh telah menerapkan prinsip-prinsip dasar penyuluhan humanis tersebut? Jawabannya ternyata masih sangat sulit. Sebagai contoh, di satu sisi para  Penyuluh ingin agar supaya peserta penyuluhan menjadi kritis, namun di sisi yang lain masih banyak  Penyuluh yang tidak ingin dikritisi.

Prinsip-prinsip  penyuluhan humanis tersebut menurut Roggers dimaksudkan agar para  Penyuluh memberi motivasi pada dasar-dasar intrinsic, dan kurikulum diperlukan jika semua instrumen/unsur-unsur  penyuluhan sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar peserta  penyuluhan. Prinsip  penyuluhan humanis tersebut diharapkan agar  Penyuluh dapat membantu prestasi peserta penyuluhan berdasarkan kepercayaan mereka tentang apa yang penting dalam pengajaran dan bagaimana memotivasi mereka. Strateginya adalah, di ruang pertemuan peran  Penyuluh terutama harus focus untuk membantu peserta penyuluhan belajar tentang bagaimana setiap individu peserta  penyuluhan dapat mengenal dirinya sendiri, dan kemudian mengenal orang lain.

2.   Perkembangan Afektif dalam Perspektif Humanis

Dalam perspektif ini seorang  Penyuluh harus membimbing peserta penyuluhan belajar untuk menemukan dirinya  melalui pengalaman yang konkrit dan umpan balik dari yang lainnya, dengan demikian sedikit demi sedikit setiap individu peserta  penyuluhan akan membentuk konsep tentang siapa dirinya, apa yang akan, dapat dan tidak dia lakukan, dan pada akhirnya, sudut pandang diri dibentuk oleh kualitas dari pengalaman awal kehidupannya.

            Bagi orang tua di rumah, harus menciptakan suasana nyaman pada diri anak-anaknya. Dalam studinya kemudian Rogers menawarkan tiga prinsip bagaimana seharusnya orang tua memperlakukan anak-anaknya di rumah, yaitu: (1). Orang tua harus benar-benar menerima seorang anak sebagai seorang pribadi yang utuh, (2). Orang tua harus membuat harapan dan standar yang jelas bagi anak, dan (3). Orang tua harus merasa peduli dan memberikan kebebasan (ruang gerak) bagi inisiatif anak dan membatasinya pada keadaan tertentu.

Sebuah hipotesis yang masuk akal, minimal untuk pra-sekolah atau tahun-tahun awal di sekolah dasar, Bahwa tingkah laku mereka sama dengan apa yang mereka perhatikan. Penghargaan orang tua yang tinggi akan sangat mendukung perkembangan anak di sekolah. Sementara itu perkembangan afektif, seperti perkembangan kognitif, tergantung dari kemampuan individu untuk mencocokkan diri sesama individu dan  kegiatan penyuluhan terhadap tugas yang diberikan.

Penyuluh seharusnya memberikan tugas dan struktur  penyuluhan yang seimbang kepada peserta penyuluhan sesuai dengan kemampuan kognitifnya. Variabel yang dapat dijadikan contoh dalam mengukur konsep diri dan prestasi peserta  penyuluhan menurut Roggers, 1983 adalah sebagai berikut:Penyuluh harus mendengarkan suara dan keinginan peserta penyuluhan serta biarkan peserta penyuluhan mengekspresi diri dan perasaannya, Penyuluh berkewajiban memberikan apresiasi yang tulus atas prestasi yang diraih oleh peserta penyuluhan/peserta  penyuluhannya.

3  Taksonomi pada Penyuluhan Afektif

Ringness (1975) menyatakan bahwa taksonomi diharapkan dapat membantu para Penyuluh untuk mengklarifikasi pemahaman mereka tentang bagaimana mengajar untuk meningkatkan perkembangan afektif  peserta  penyuluhan. Sebagai contoh, jika seorang  Penyuluh menerangkan sebuah polusi maka hal itu akan berguna untuk menyadarkan bahwa dengan hanya sebuah kesadaran dan kepedulian pada polusi sebagai suatu masalah membuat mereka tidak penting untuk membangun kemauan untuk mengambil tindakan.

Pada tingkat yang lebih tinggi dari taksonomi menyuguhkan cara untuk mengembangkan komitmen peserta  penyuluhan pada nilai-nilai dan kepercayaan. Pada awalnya, para peserta  penyuluhan hanya memverbalkan posisi para  Penyuluh, tetapi ketika mereka menjadi ingin untuk menyampaikan dan mempertahankan posisinya di hadapan publik. Pada level ketiga dari taksonomy, para peserta  penyuluhan mulai menginternalisasi keyakinan dalam diri mereka, sebagai contoh mereka menerima kebutuhan untuk mengelola lingkungan, sehingga mereka tidak lagi dikontrol oleh opini dari yang lainnya. Peserta penyuluhan setelah itu dapat mengintegrasikan keyakinannya tentang lingkungan dengan keyakinan yang lainya dan bahkan mungkin menggeneralisasikan lebih jauh dan menjadi kesadaran yang menyatu dan berhubungan atau dengan sukarela memberikan waktu untuk masalah-masalah lingkungan.

Kunci pertanyaan yang menjadi perhatian adalah perluasan dimana pengalaman di dalam ruang pertemuan akan membantu peserta penyuluhan membangun struktur nilai yang terpadu. Sebuah topik yang dipelajari menjadi sebuah nilai pemeriksaan, dengan demikian sebuah kurikulum dapat dirancang dengan cara ini. Dengan waktu yang relatif singkat sebuah tujuan dapat diselesaikan dan direspons, dan waktu yang lebih lama diperlukan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dari taksonomi.

Taksonomi ini menyediakan referensi konsep yang berguna yang menyarankan bagaimana level yang beragam dari pengaruh peserta  penyuluhan dapat berhubungan dengan kandungan kurikulum, dan termasuk di dalamnya prinsip-prinsip Roggers (1983), seperti membantu peserta  penyuluhan untuk membangkitkan kepercayaan diri mereka. Namun demikian, Patterson (1973) mengkritik methode ini (taksonomi), karena menurutnya hanya sedikit memberikan kontribusi pada perkembangan afektif.

Menurut Patterson, Penyuluhan afektif adalah perkembangan kesadaran. Perkembangan yang pertama adalah ekspresi diri, bagaimana seorang/individu  dapat melihat atau menerima dirinya sendiri seperti apa adanya. Dan yang paling utama adalah bagaimana ia merasa bebas, menjadi terbuka dan jujur pada dirinya sendiri. Perkembangan yang kedua adalah seorang/individu harus mampu untuk mengeksplorasi, mencari, dan mengevaluasi dirinya sendiri. Bagian dari proses ini termasuk umpan balik dan ia diterima dalam kelompoknya.

Taksonomi bukan satu-satunya methode dinamik yang digunakan dalam membantu perkembangan kepribadian afektif peserta penyuluhan. Tetapi cara ini berguna untuk mempertimbangkan tujuan afektif sehingga memudahkan para  Penyuluh untuk memilih metode, prosedur, dan kandungannya untuk membantu peserta  penyuluhan dalam berprestasi dan menginternalisasi keyakinannya.

 

 

4          Penerapan Prinsip-Prinsip Humanis

Untuk mencapai tujuan  penyuluhan yang lebih humanistis Patterson memberikan solusi ke arah pencapaian perubahan dimaksud, diantaranya adalah (a). Jadwal harus terbuka disesuaikan dengan kebutuhan peserta penyuluhan; (b) penyuluhan yang lebih aktif; (c) Pembebasan (memudahkan aktualisasi diri dan perasaannya; (d) Penekanan lebih pada kreativitas;  (e) penyuluhan yang lebih kooperatif;  (f)Kesempatan yang lebih pada evaluasi diri;dan (g) Integritas pribadi (jati diri), potensi non-akademik dan kurikulum harus bersifat intrinsic.

Apakah sampai sejauh ini  seorang  Penyuluh memberi kebebasan pada peserta penyuluhan untuk menentukan tujuan  penyuluhannya ? De Charms (1984) mencoba memodifikasi beberapa pemikiran awalnya tentang bagaimana  Penyuluh membantu memfungsikan peserta penyuluhan sebagai “Origins” setelah berada di ruang kelas.

De Charms (1984) menulis :Sebuah sudut pandang romantic tentang seorang Origin sebagai jiwa yang bebas tak terhalang oleh tekanan dari yang lainnya. Pada perspektif ini, seseorang tidak memikul tanggung jawab untuk mempertahankan kewenangannya. Kita akan menjadi lebih skeptis pada  cara pandang tersebut….. tidak bermaksud untuk menekan orang-orang disekitarnya tetapi adalah sebuah permulaan dalam memperlakukan orang-orang sebagai Origins, tapi kita akan segera menemukan bahwa membiarkan mereka melakukan apa yang mereka ingin lakukan bukan berarti kita tidak memperlakukan mereka sebagai Origins. (p.83)

DeCharms menekankan perlunya peran  Penyuluh dalam memotivasi peserta penyuluhannya. Para  Penyuluh yang ingin membantu peserta penyuluhan  untuk memfungsikan Origin dapat melakukan hal serupa dengan membantu mereka untuk menyusun tujuan realistis, menemukan kekuatan serta kelemahan mereka, membuat rencana konkret untuk mencapai tujuan, dan memonitor usaha mereka.

Praktek-praktek  penyuluhan konservarif sering membatasi ruang gerak peserta penyuluhan dalam belajar dan waktu yang digunakanpun sering dibatasi. Sementara penyuluhan humanis lebih menekankan pentingnya keterbukaan  sesuai dengan kebutuhan peserta  penyuluhan. Sebagai contoh, banyak para peserta penyuluhan yang sudah memiliki pekerjaan lain  akan mengekspresikan jadwal yang lebih fleksibel. Sebagian waktunya digunakan untuk kegiatan-kegiatan pelatihan dalam hal mencari pengalaman kerja. Akomodasi yang bijak ini disebut dengan fleksibilitas, dengan usaha yang berkelanjutan terhadap pertumbuhan akademik peserta penyuluhan dan tidak mengganti nilai-nilai penyuluhan dengan nilai-nilai budaya mereka. Untuk mengilustrasikan terjadinya reaksi kimia, contohnya, sangat berguna untuk membuat peserta  penyuluhan membatasi waktunya dua jam jika jadwalnya dapat dimodifikasi sehingga peserta  penyuluhan dapat sewaktu-waktu menggunakan waktu tambahan pada mata pelajaran tertentu ketika pembelajaran eksakta atau percobaan yang membutuhkan waktu yang lebih banyak.

Sebagian tokoh humanis tidak sepakat dengan tata ruang kelas yang sering dipraktekkan oleh penyuluhan konvensional/tradisional, atau gagasan memberikan sesuatu/tugas yang sama pada waktu yang sama kepada peserta penyuluhan padahal kemampuan dan minat peserta penyuluhan terhadap pelajaran berbeda-beda. Yang mesti dilakukan adalah kegiatan penyuluhan yang lebih adaptif disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta penyuluhan, seperti memberikan kesempatan peserta penyuluhan dalam mengembangkan minat, memilih pelajaran yang sesuai dengan kemampuan  dll.  ”Kebebasan peserta penyuluhan” dan penyuluhan terbuka adalah dua hal yang sangat penting dalam model  penyuluhan yang adaptif.

         Wang dan Lindvall (1984) menawarkan tujuh prinsip dalam penyuluhan adaptif, yaitu:

1)      Tujuan Instruksional berdasarkan pada kemampuan setiap peserta  penyuluhan,

2)      Memilih materi dan prosedur yang sesuai dengan minat dan kemampuan peserta penyuluhan,

3)      Evaluasi periodik,

4)      Mengidentifikasi kebutuhan, kemampuan, rencana aktifitas, dan evaluasi penguasaan belajar,

5)      Membantu keahlian atau keterampilan akademis yang dibutuhkan dalam kegiatan alternatif;

6)      Menetapkan tujuan penyuluhan, luaran dan aktivitas, serta

7)      Kerjasama kelompok dalam rangka mencapai tujuan.

Banyak program instruksi individualisasi dikembangkan dengan rancangan yang menitikberatkan pada prestasi akademik dibandingkan kepribadian peserta  penyuluhan atau perkembangan afektif, walaupun keuntungan afektif seringkali dibutuhkan oleh peserta penyuluhan. Dengan pengecualian dari program yang mengandung elemen  penyuluhan kerjasama (Slavin, 1983). Bagaimanapun, program individualisasi tidak mencatat kesuksesan dalam mendorong kepribadian peserta  penyuluhan atau perkembangan afektif. Alasan utama untuk ini bahwa beberapa program menggantungkan pada kebutuhan peserta  penyuluhan untuk bekerja melalui modul kurikulum individualiasi, sebuah bentuk instruksi yang cocok untuk digerakkan dan dipraktekkan pada fakta dasar, konsep dan keterampilan tetapi tidak untuk instruksi pada proses kognitif yang lebih tinggi. (penyelesaian masalah, berfikir, kreativitas) atau untuk mengembangkan pernyataan disposisi yag umum seperti minat, tingkah laku atau nilai-nilai (Jackson, 1985). Konsekuensinya, banyak dari program-program ini mengandung sedikit karakter pertama pada catatan Wang dan Lindvall (1984). Aktivitas membaca sering dikorbankan untuk aktivitas-aktivitas kerja yang mengandalkan subskill mendengar, kreatifitas menulis dikorbankan pada pengejaan dan pemberian tanda-tanda baca, bekerja dengan manipulasi yang konkret, pelajaran matematika dikorbankan oleh latihan perhitungan, dan menghilangkan  penyuluhan sains dan ilmu sosial yang sebenarnya (Kepler &Randall, 1977). Meskipun sebuah tingkat individualisasi, seperti instruksi sering membosankan, diulang-ulang dan dengan kata lain kurang memuaskan dibandingkan instruksi tradisional (Carlson, 1982; Everhart, 1983).

5   Korikulum Afektif dalam Perspektif Humanis

Brown (1971) menggunakan istilah penyuluhan tatap-muka (confluent education) untuk merefleksikan integrasi dari pengaruh kedalam materi ajaran. Simpson & Gray menyebutkan Lingkaran Magis (Magic Circle) (berdasarkan program pengembangan manusia yang dikembangkan oleh Harold Bessell dan Ualdo Palomares). Selama pertemuan kelompok lingkaran magis, peserta  penyuluhan memiliki kesempatan untuk saling menukar persepsi dan opini dengan teman sebaya mereka tentang suatu topik seperti, “ sesuatu yang saya suka darimu”, “Sesuatu yang saya suka dari diri sendiri”, atau,”Jika saya dapat melakukan sesuatu saya ingin kamu suka”.

Pada tingkat kedua, satu aktivitas Simpson & Gray menggambarkan Mars Terompet (Trumpet March)  (dikembangkan di pusat penyuluhan humanis di University of Massachussetts). Pada aktivitas ini peserta  penyuluhan mengumpulkan dan mengevaluasi data tentang tingkah laku mereka dengan yang lainnya. Cara lain untuk menjadikan afektif sebagai kurikulum sekolah di beberapa ruang kelas melalui aktivitas klarifikasi nilai-nilai. Simon, Howe, dan Kirschenbaum (1972) berpendapat bahwa banyak orang tidak memahami nilai-nilai mereka dengan jelas.

Jantz dan asosiasinya (1976), dari pusat Aging di University of Maryland, telah menghasilkan sebuah panduan kurikulum untuk perilaku anak-anak dan orang tua. Termasuk di dalamnya buku-buku yang mengundang reaksi anak-anak. Informasi ini menawarkan Informasi yang akurat bagi individu orang tua. Sebuah kesempatan untuk melihat tingkah laku dari orang-orang dewasa yang berbeda-beda bentuknya, dan kesempatan untuk mengembangkan perasaan positif tentang pertumbuhan.

Cara lain yang dipandang efektif yang difikirkan peserta penyuluhan adalah melalui penyuluhan estetika. Beberapa orang beralasan bahwa peserta penyuluhan dapat menjadi sensitif pada pengalaman estetika (lihat laporan Berangkat dari perasaan kita: Signifikansi seni pada Penyuluhan Amerika. Ketertarikannya di sini bukan pada pentingnya menyempurnakan kemampuan peserta penyuluhan untuk belajar tetapi membuat mereka peduli terhadap permasalahan-permasalahan estetika. Bagaimana responnya ke seni, music, dan objek-objek keindahan lainnya, bagaimana seseorang mengevaluasi penampilan teater dengan pengajaran langsung, program penyuluhan estetika membantu peserta penyuluhan untuk mengembangkan dan memahami kriteria respon untuk pengalaman estetika. Pendeknya, tujuan pada pelatihan tersebut adalah untuk membuat peserta  penyuluhan mendapatkan pengalaman yang lebih baik lagi.

Baskin dan Hess (1980) mengevaluasi program-program penggunaan kurikulum afektif untuk mencapai tujuan afektif, yang diimplementasikan pada waktu yang spesifik selama di kelas/sekolah, dan diperoleh hasil evaluasinya sebagai berikut : (1). Pendekatan Kognitif dapat menyelesaikan masalah ; (2).Perkembangan pemahaman diri sendiri dan orang lain; (3). Program pengembangan manusia; (4). Proyek pelatihan keterampilan interpersonal; (5). Kepedulian; (6). Sekolah tanpa kegagalan; (6). Pelatihan efektifitas bagi  Penyuluh (TET).

Lebih lanjut Baskin dan Hess mengklasifikasikan tujuh program tersebut ke dalam tiga wilayah, yaitu (1). Emosi-internal atau dimensi internal meliputi perasaan, emosi, persepsi diri, dan sikap; (2) Wilayah kognitif mencakup wilyah kognitif ini mengacu kepada pemahaman mahapeserta penyuluhan tentang prinsip-prinsip sosial dan kemampuannya mengahadapi pilihan situasi sosial yang tidak menentu); dan (3).Dimensi Tingkah laku/tindakan; (dimensi tingkah laku meliputi tingkah laku interpersonal yang diamati seperti interaksi sesama teman atau dengan orang dewasa).

Elardo (1976) merangkum informasi tentang program yang berhubungan dengan perkembangan sosial dan mengkritisi empat program yang telah dan sedang diimplementasikan di sekolah dasar (SD), yaitu :

1)      Pendekatan Causal Ojemann’s untuk tingkah laku manusia;

2)      Program perkembangan manusia;

3)      Terapi realitas/sekolah tanpa kegagalan; dan

4)      Perkembangan pemahaman untuk diri sendiri dan orang lain.

Elardo menyimpulkan bahwa empat program yang dicobakan untuk penyuluhan  humanisasi selama anak usia awal dan pertengahan sekolah dan menyediakan contoh-contoh dan cara dimana kurikulum sekolah tradisional dapat diperpanjang tetapi program-program tersebut mengecewakan. Hal ini disebabkan karena, pertama; deskripsi kegiatan tidak mengandung pernyataan yang jelas berkaitan dengan mekanisme perkembangan pemahaman manusia, kedua; sangat menyulitkan untuk menentukan dasar perencanaan kurikulum, ketiga; program tersebut tidak terintegrasi dengan baik dengan teori dan penalitian anak terkini, keempat; setiap program mengekspresikan banyak penghargaan pribadi, tetapi sedikit yang fokus pada hubungan peserta penyuluhan dengan yang lainnya. Untuk itu Elardo beralasan bahwa untuk mendapatkan tingkah laku yang proporsional harus keluar dari individu peserta penyuluhan dengan mencari kelompok dan ruang kelas yang membutuhkan peserta penyuluhan.

Hudgin (1979) menampilkan data dari sebuah tes tentang efek dari program Toward Afektif Development (TAD. Hudgin menyatakan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dari program ini pada peserta penyuluhan tentang konsep diri atau penyesuaiannya. Ia mencatat bahwa ada pertimbangan anekdot yang memuji beberapa program afektif pada literatur-literatur, tetapi beberapa data mendukung advokasi. Lebih jauh lagi, dia menyatakan bahwa permohonan intuisi yang kuat untuk penyuluhan afektif untuk beberapa orang dapat menyebabkan mereka mendukung sebuah program bahkan tanpa mempertimbangkan penelitian tentang keefektifannya.

6   Kerjasama Afektif dalam Perspektif Humanis

Disamping menempatkan objek afektif secara langsung melalui inklusi dari kurikulum afektif pada program sekolah, hal tersebut mungkin untuk menyempurnakan objeknya secara tidak langsung dengan mengubah kondisi dimana peserta penyuluhan berpartisipasi ke dalam aktivitas akademik. Pada ruang kelas konvensional/tradisional, tipe-tipe peserta penyuluhannya memiliki kepedulian hanya pada diri mereka sendiri, tidak dibolehkan membantu satu sama lainnya, dan bersaing untuk sebuah nilai. Pendekatan  penyuluhan kerjasama diinstruksikan untuk mengubah kondisi ini. Sering dengan pengaruh positif pada luaran afektif. Pendekatan  penyuluhan kerjasama mengganti tempat kerja yang independent dengan aktivitas  penyuluhan kerjasama pada kelompok kecil peserta penyuluhan (5 sampai 6 orang) bekerja bersama dalam praktek dan pelatihan terapan. Beberapa yang terbaik terkenal dan penelitian yang lebih luas mengenai program  penyuluhan kerjasama yang dijelaskan sebelumnya. Sebagai informasi tambahan mengenai hal ini dan program-program kerjasama yang lainya, lihat Sharan et al (1984), slavin (1983), atau Slavin et al.(1985).

Pendekatan  penyuluhan kerjasama diinstruksikan untuk mengubah pola-pola peserta penyuluhan yang memiliki kepedulian hanya pada diri mereka sendiri, tidak kooperatif, dan bersaing hanya untuk mendapatkan sebuah nilai. Johnson et al., 1984; membagi Model ini ke dalam empat  elemen dasar, yaitu:

1)      Interdependensi positif (menyelesaikan tugas secara bersama-sama dan saling berkontribusi untuk meraih kesuksesan bersama);

2)      Saling berinteraksi sesama anggota kelompok (tugas membutuhkan lebih banyak interaksi dibandingkan dikerjakan sendiri);

3)      Pertanggungjawaban individu (setiap anggota harus mengetahui secara jelas apa yang harus mereka pertanggungjawabkan);

4)      Keterampilan interpersonal (saling menghargai, diskusi, berpartisipasi aktif dalam menghidupkan kelompoknya.

Schlomo sharan dan lembaganya (1984) telah mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai metode penelitian kelompok di Israel yang mirip dengan metode  penyuluhan kelompok yang dikembangkan di USA oleh Johnsons. Penelitian kelompok peserta penyuluhan berbentuk kelompok dengan anggota dua sampai enam orang menggunakan penyelidikan kerjasama, diskusi kelompok, dan proyek serta perencanaan kerjasama. Mereka memilih sub-topik dari sebuah unit yang dipelajari oleh seluruh kelas, membawa mereka ke tugas individu, dan membawa aktivitas yang diperlukan untuk mempersiapkan laporan pada sub-topik tersebut. Bahkan sewaktu-waktu kelompok membuat sebuah presentasi atau menampilkannya untuk mengkomunikasikan penemuannya ke seluruh kelas dan dinilai berdasarkan kualitas laporan.

Aronson et, al, 1978 mengembangkan suatu metode yang disebutnya “metode gergaji”. Metode ini lebih menekankan pada partisipasi individu aktif dan kerjasama kelompok dengan menyusun tugas sehingga setiap anggota kelompok memiliki informasi yang unik dan kemudian memiliki peran yang unik untuk dimainkan. Produk dari kelompok tidak dapat dilengkapi tanpa setiap anggota kelompok melengkapi pekerjaannya, seperti puzzle gergaji yang tidak bisa dilengkapi tanpa melingkupi semua bagiannya. Informasi diperlukan untuk menyusun sebuah biografi, sebagai contoh, dapat dipecah menjadi kehidupan awal, penyempurnaan pertama, latarbelakang utama, kehidupan kemudian, dan peristiwa-peristiwa dunia yang terjadi selama waktu hidup seseorang. Setiap anggota kelompok yang berbeda diberikan informasi yang diperlukan dan diberikan tanggungjawab untuk setiap lima bagian ini. Anggota-anggota dar kelompok yang berbeda yang bekerja dengan bagian yang sama bisa bertemu bersama di “Kelompok keahlian” untuk mendiskusikan bagian ini. Kemudian mereka kembali ke kelompok regular dan mendapatkan giliran mengajarkan sesama anggota kelompoknya tentang bagian mereka. selama seorang peserta penyuluhan hanya mempelajari bagiannya kemudian mereka akan sangat mendengarkan dengan hati-hati bagian yang di bawakan oleh teman lainnya sesama angota kelompok, mereka dimotivasi untuk mendukung dan menunjukkan ketertarikan dengan pekerjaan yang lainnya. Para peserta penyuluhan kemudian menyiapkan biografi atau membuat kuis dengan bahan-bahan mereka sendiri.

Robert Slavin dan yang lainnya di John Hopkins University, secara kolektif mengembangkan sebuah metode  penyuluhan kelompok yang dikenal dengan istilah Student Team Learning. Empat metode  penyuluhan kelompok peserta penyuluhan dimaksud adalah : Teams-Games-Tournament (TGT),Student Teams- Ahievement Divisions (STAD), Jigsaw (model gergaji) II, dan Team Assisted Indivizualitation (TAI).

 

Teams-Games-Tournament (TGT).

Metode ini melibatkan seluruh  peserta penyuluhan yang bekerja bersama dengan empat atau lima angota kelompok yang heterogen untuk menolong satu sama lainnya menguasai isi materi dan menyiapkan kompetisi melawan kelompok yang lainnya (Slavin, 1983). Sesudah para  Penyuluh mempresentasikan bahan yang dipelajari, anggota kelompok bekerja bersama untuk belajar dari kertas kerja dengan mendiskusikan bahan dan yang diterangkan  Penyuluh atau saling bertanya dan memberi kuis satu sama lain. Praktek kerjasama bentuk ini terus berlanjut selama seminggu untuk mempersiapkan turnamen yang diselenggarakan hari jumat. Untuk turnamennya, disertakan tiga peserta penyuluhan dimana yang disusun dari peserta penyuluhan-peserta  penyuluhan dari tim yang berbeda yang memiliki prestasi yang sama. Tiga orang pada setiap meja berkompetisi pada games akademik yang terdiri dari kandungan pemikiran serta praktek selama seminggu. Peserta penyuluhan mendapatkan poin dengan menjawab dengan benar sebuah pertanyaan atau berhasil bersaing atau membetulkan jawaban salah dari lawan, dua orang lainnya pada meja. Semenjak mereka bersaing dengan teman sebaya yang prestasinya sama, peserta penyuluhan yang prestasinya rendah juga memiliki kesempatan mengumpulkan poin untuk tim mereka dengan cara yang sama dengan yang dilakukan peserta penyuluhan berprestasi tinggi. Poin dijumlahkan untuk menentukan skor tiap tim, dan para  Penyuluh menyiapkan sebuah koran untuk mengabadikan kesuksesan tim tersebut.

Student Teams- Ahievement Divisions (STAD)

STAD adalah sebuah penyederhanaan dari TGT (Slavin,1983). Yang digunakan pada pengelompokan anggota yang heterogen dan prosedur penyuluhan kerjasama tetapi mengganti turnamen dengan kuis. Skor kuis di translate kedalam kompetisi poin tim berdasarkan pada skor peserta penyuluhan yang satu kemudian dibandingkan dengan skor peserta penyuluhan yang lainnya pada “divisi prestasi” mereka ( Terdiri dari peserta  penyuluhan-peserta penyuluhan dengan prestasi yang sama), dan poin individu dikombinasikan ke total tim. Baik TGT maupun STAD mengkombinasikan struktur tugas penyuluhan kolektif dengan kompetisi tim dan reward kelompok dengan performa kolektif individu, Bagimanapun STAD menguraikan personalisasi elemen kompetitif. Dibandingkan berkompetisi berhadap-hadapan melawan teman sekelas mereka pada meja turnamen, peserta  penyuluhan-peserta  penyuluhan pada kelas STAD mencoba untuk melakukan yang terbaik dalam kuis yang mereka kerjakan secara individu. Mereka tahu bahwa poin akan diberikan tergantung dari bagaimana mereka lakukan dibandingkan dengan teman sebayanya pada divisi prestasi yang sama, tetapi mereka tidak mengetahui siapa peserta penyuluhan-peserta penyuluhan ini ( Penyuluh tidak memperlihatkan prestasi anggota divisi). Slavin dan lembaganya sedikit-demi sedikit menempatkan penekanan yang lebih pada STAD dan sedikit pada TGT, karena STAD lebih mudah diimplementasikan dan dapat mereduksi kompetisi yang terlalu mencolok.

Jigsaw II (Gergaji II)

Jigsaw II adalah penyederhanaan dan adaptasi dari Jigsaw asli (Slavin, 1983). Penyederhanaan ini adalah  Penyuluh tidak perlu menyediakan setiap peserta penyuluhan dengan materi yang berbeda atau unik. Selain itu, setiap peserta penyuluhan dimulai dengan membaca narasi yang biasa tetapi kemudian setiap peserta penyuluhan pada kelompok diberikan topik yang terpisah yang membuat mereka menjadi seorang ahli. Juga, dimana Jigsaw digunakan untuk mendapatkan nilai individu berdasarkan skor kuis. Jigsaw II menggabungkan elemen penambahan dari menghitung skor tim dan menyempurnakan tim melalui surat kabar (koran) kelas.

Team Assisted Indivizualitation (TAI).

TAI adalah sebuah adaptasi dari instruksi individualisasi matematika yang mengenalkan metode  penyuluhan kerjasama dan kompetisi tim dengan penilaian kelompok, seperti pada STAD (slavin, 1985). Peserta  penyuluhan-peserta  penyuluhan TAI bekerja secara bekerjasama dengan berpasangan atau tiga orang dengan tutorial, kuis, dan bentuk yang lainnya yang membantu yang lainya menguasai kandungan penugasan individu. Di akhir minggu, diadakan ujian berdasarakan referensi tugas individu, dan nilai mereka digunakan baik pada penilaian individu maupun bertujuan memberikan penilaian pada kelompok.

Slavin (1983) telah merangkum banyak penelitian pada metode  penyuluhan kerjasama. Pengaruhnya pada prestasi pada umumnya positif, walaupun mereka menggunakan penilaian kelompok dan mendapatkan penilaian pribadi dengan struktur tugas kerjasama. Kemudian metode  penyuluhan kelompok peserta penyuluhan yang menggunakan nilai kelompok (TGT, STAD, Jigsaw II, TAI) tetap dipertahankan untuk mendapatkan pengaruh positif yang konsisten terhadap prestasi peserta penyuluhan, dimana lebih murni metode kerjasama (belajar bersama, penelitian kelompok, atau original Jigsaw) yang lebih sedikit menghaslkan keuntungan positif melalui pengajaran tradisional (Moskowitz et al., 1985; Okebukola, 1985; Slavin, 1983).

Pengaruh dari out-put afektif ini lebih mengesankan. Penyusunan belajar kerjasama ditemukan untuk mendorong pilihan persahabatan dan bentuk prososial yaitu interaksi diantara sesama peserta penyuluhan yang berbeda secara prestasi, jenis kelamin, ras atau etnis dan mendorong penerimaan dari peserta  penyuluhan yang menghalangi mereka menjadi teman sekelas yang tidak menghalangi mereka. Metode kerjasama juga terkadang memiliki pengaruh yang positif pada luaran afektif seperti penghargaan diri, kepercayaan diri akademik, menyukai klas, menyukai dan merasakan suka terhadap teman sekelas, empati dan kerjasama sosial (Slavin, 1983).

Metode  penyuluhan kerjasama tidak mengganti secara keseluruhan pendekatan tradisional tapi mengadaptasi dimana pengenalan  Penyuluh dan konsep yang berkembang dengan cara biasa tetapi kemudian ditambahkan praktek dan penerapan aktivitas yang dikerjakan secara bersama-sama dibandingkan hanya dengan secara individu. Metode  penyuluhan kelompok tersebut para peserta penyuluhan merasa lebih cocok untuk mempraktekkan keterampilan dasar,dimana metode kerjasama yang lebih murni terlhat lebih cocok untuk aktivitas penelitian dan proyek kerja yang lainnya di pelajaran ilmu pengetahuan sosial maupun sains. Beberapa aktivitas  penyuluhan kerjasama dapat menjadi cara yang efektif untuk menyusun pengalaman sehingga baikout-put kognitif maupun afektif dapat diteruskan, khususnya jika aktivitasnya dirancang sehingga tiap peserta  penyuluhan berperan aktif dalam memainkan peranannya.

 

7   Tingkah Laku Prososial dalam Perpektif Humanis

Mussen dan Eisenberg-Berg (1977) menyatakan bahwa tingkah laku prososial adalah “Tindakan untuk membantu orang lain, dengan tanpa pamrih, tanpa tekanan, dan tidak dengan harapan memperoleh sesuatu hadiah. Meskipun beberapa tindakan sering memerlukan biaya dan pengorbanan dirinya sebagai konsekuensi dari perannya”. Dan orang tua yang prososial adalah orang tua yang memiliki tanggung-jawab pengatur anak-naknya dengan baik pada usia dini, mendorong mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka ke yang lainnya, dan menjelaskan alasan dibalik aturan yang mereka buat. Demikian juga peran para  Penyuluh dalam perspektif  penyuluhan prososial ini. Setiap tugas yang diberikan kepada peserta penyuluhan sebisa mungkin diselesaikan atau dikerjakan secara bersama-sama dalam bentuk kerja sama demikian juga laporannya, karena efek yang ditimbulkan dari aktifitas ini dapat dirasakan manfaatnya secara langsung. Para  Penyuluh juga dapat mengeksplor topik prososial secara langsung dengan menjadwalkan diskusi mengenai dilema moral, memainkan peranan atau simulasi situasi sosial, atau aktivitas lain yang dirancang untuk mengembangkan prososial, tindakan kerjasama, dan penempatannya pada peserta penyuluhan.

8   Siapakah  Penyuluh Humanis?

Menurut Patterson (1973) bahwa  Penyuluh yang humanis adalah  Penyuluh sejati.  Penyuluh seperti ini tidak khawatir terhadap peserta penyuluhan yang ia ajar dan selalu memiliki keinginan untuk membagi pandangannya secara terbuka, ia tidak menyembunyikan perasaannya dan tetap konsisten, ia menerima dan memposisikan peserta penyuluhannya sebagai bagian dari perasaannya.  Penyuluh seperti ini kata Petterson adalah  Penyuluh yang selalu mempertanggung-jawabkan setiap tindakannya. Ketika ia terluka atau marah, ia akan mengatakan “Saya terluka”, “Saya marah”. Tentang kemarahan, Patterson menulis : “Saya mengakui hal itu sebagai perasaannya dan bertanggungjawab atas perbuatannya. Jika ia memarahi seorang anak, yang ia marahi adalah perbuatannya, bukan anaknya, dengan apa yang telah ia perbuat.”

Karakteristik kedua adalah penghargaan kepada anak sebagai seorang manusia, yang ditunjukkan dengan menerima peserta  penyuluhan dengan aktivitas yang dilakukannya, tentang keinginan, pendapat dan perasaannya. Patterson mengakui bahwa ketidak sempurnaan, kesalahan, perubahan padamood dan motivasi adalah manusiawi. Tetapi dibalik semua itu ada kepercayaan bahwa ada kebaikan yang mendasari manusia dalam kapasistasnya sebagai individu untuk tumbuh dan berkembang, dan dapat mengaktualisasikan potensinya di lingkungan yang cocok”.

Pemahaman empati adalah karakteristik ketiga dari  Penyuluh humanistic. Hal ini termasuk usaha yang aktif oleh para  Penyuluh yang menempatkan dirinya pada peserta penyuluhan-peserta penyuluhannya sesuai posisinya dan memahami persepsi serta perasaan para peserta penyuluhannya.

Menurut Rogers (1983) bahwa  Penyuluh yang berempati adalah  Penyuluh yang sering memuji peserta penyuluhannya; selalu menggunakan ide peserta penyuluhan dalam interaksi/proses belajar-mengajar di kelas; sering berdiskusi dengan peserta penyuluhannya; rencana  penyuluhan disesuaikan dengan keadaan peserta penyuluhannya; tujuan  penyuluhan disarikan secara bersama; ruang kelasnya tertata secara individualisasi; lebih bebasdan fleksibel; serta lebih menekankan pada produktivitas dan kreatifitas dibandingkan dengan evaluasi.

III. KESIMPULAN

 1   Kesimpulan

Dari berbagai teori yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal antara lain :

      Penyuluhan humanis merupakan salah satu teori penyuluhan yang mengarahkan manusia pada pembebasan (proses memanusiakan manusia). Inti dari teori humanis ini adalah aktualisasi diri, kepercayaan diri, keterbukaan, kooperatif, adaptif, tanpa ancaman serta kreatifitas peserta penyuluhan dalam mengembangkan dirinya.

       Penyuluh yang humanis adalah  Penyuluh sejati yang memiliki kepekaan dan mempunyai keinginan untuk membagi pandangannya secara terbuka, tidak menyembunyikan perasaannya dan tetap konsisten, menerima dan memposisikan peserta penyuluhannya sebagai bagian dari diri dan perasaannya. Sering memuji peserta penyuluhannya dan selalu menggunakan ide peserta penyuluhan dalam interaksi/proses belajar-mengajar di kelas.

      Peran keluarga dan  Penyuluh dalam perspektif humanis memiliki peran yang sama dalam proses perkembangan jati diri anak/peserta penyuluhan.

DAFTAR PUSTAKA

Bringham, J.G. 1991. Social Psychology. New York: Harper Gillins Publisher Inc.

Brophy, J. E. y Good, T. L. (1974): Teacher-student relationships: Causes and consequences. New York: Holt, Rinehart & Winston.

Budiningsih C.A., 2005. Belajar dan Pembelajaran. PT. Asdi Maha Satya, Jakarta.

Coulhorn, J.F., & Acocella, J.R. 1990. Psychology of Adjustment and Human Relationship. New York: McGraw-Hill Publishing Company.

Hawkins & A.W. Van Den Ban, 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius, Yokyakarta.

Helmi, F.A. 1995. Konsep dan Teknik Pengenalan Diri. Buletin Psikologi, 2. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Hurlock, E.B. (1974) 2002. Personality Development. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Co. Ltd.

Jalaluddin Rahmat. 1988. Keterampilan Komunikasi. Bandung : CV. Karya Remaja.

Kartasapoetra, 1994. Teknologi Penyuluhan Pertanian, Radar Jaya Offset, Jakarta.

Kusnandar, 2007. Guru Profesional. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Maslow, Abraham.(1954) 2001 Motivation and personality. Harper and Row New York, New York.

Poedjijogdjanti, R.G. 1993. Konsep Diri dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Penelitian Unika Atmajaya.

Roger, E.M. 2004, The  Diffusion Procces, Edisi ke enam New York: The Free Press.

Sanafiah Faisal. 1989. Sosiologi Pendidikan. Surabaya : Usaha Novel Indonesia.

Slavin, R. E. 1995. Cooperative learning: Theory, research, and practice (2nd ed.). Boston: Allyn & Bacon.

Thomas L. Good dan Jere E. Brophy.2003 Educational Psychology-. Longman New York dan London

 Sanjaya W, 1992. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses  Pendidikan. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Suhardiyono, 1992. Penyuluhan Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: